Green Trips

Agu
27
2009
Kunjungan ke rumah hijau di Batubulan Bali

Dikelilingi sawah-sawah dan udara yang bersih, rumah Pak Deepak dan Ibu Hira di Batubulan Bali terasa seperti tempat untuk menarik diri dari segala jenis kebisingan sehari hari.

Kebetulan, rumah ini dapat dijadikan pelajaran dasar untuk siapapun yang ingin mengikuti cara hidup yang lebih ramah lingkungan dan spiritual. Tertarik? Baru-baru ini, beberapa anggota dari komunitas Greenlifestyle mendapat kesempatan untuk mengunjungi rumah tersebut untuk menggali lebih dalam...

Untuk Greentrip komunitas Greenlifestyle yang pertama di Bali (hip hip hip.... hooray!), Pak Deepak dan Ibu Hira membuka lebar pintu rumah mereka; kesempatan ini sangat unik terutama untuk beberapa orang yang bergerak di bidang arsitektur, serta untuk anggota GL yang memiliki minat akan 'green housing' untuk lebih melihat dan mengajukan pertanyaan: kira-kira rumah dengan ciri-ciri 'green house' itu seperti apa? Mahal gak ya bikin rumah seperti itu? Atau 'kok bisa lantainya segitu halus'?

Memang rumah bisa punya kepala?
Dilihat dari luar, rumah ini cukup sederhana. Namun, prinsip dasar orientasi bangunan dan aliran udaranya (jendela, pintu dll) sesuai dengan konsep vastu vidya.

Berdasarkan vastu vidya, yaitu struktur bangunan sesuai pemikiran Hindu, orientasi bangunan (rumah maupun kantor) berpengaruh pada kualitas kehidupan, hubungan, kemakmuran dan lain-lain.

Oleh karena itu, saat Pak Deepak mendesain rumah tersebut, beliau mengarahkan bangunannya ke arah Timur. 'Kenapa Timur'? muncul suara dari kelompok kami. Pak Deepak pun menjelaskan: 'Matahari selalu terbit dari arah Timur. Maka, bagian Timur adalah 'kepala' rumah kita, dan di sinilah kami posisikan ruang kantor kami (Timur Utara). Matahari berarti sinar, yang bisa diartikan juga sebagai ilmu pengetahuan, atau kesadaran dan pencerahan spiritual.'

Selain vastu, ada satu alasan lagi untuk memposisikan ruang kerja ke Timur Utara: cahaya yang masuk dari jendela yang lebar memungkinkan sang pemilik rumah untuk bekerja tanpa menggunakan lampu hingga jam 6 sore, dan tanpa alat tambahan seperti kipas angin atau pendingin udara.

Cara sederhana bikin lantai murah dan mudah dibersihkan
Salah satu aspek rumah ini yang paling kita nikmati saat kunjungan adalah kesegarannya. Sejak awal, Pak Deepak sudah memutuskan untuk tidak menggunakan lantai keramik. Lalu pakai apa? Semen sederhana. Hanya dengan cara melapisi lantai dasar rumah dengan semen polos yang didiamkan selama 2 hari sampai kering (kemudian dipoles dengan ampas kelapa), kaki kita akan selalu terasa sejuk.

Menurut Pak Deepak, penggunaan semen seperti ini bisa jadi lebih hemat biaya dibandingkan penggunaan lantai keramik. Apalagi tidak perlu menggunakan pembersih lantai!!

Walaupun hanya sedikit kayu digunakan dalam bangunan, namun Pak Deeepak mengupayakan untuk tidak tergantung pada kayu 'baru'. Misalnya, tempat tidur dibuat dari kayu daurulang dari furnitur bekas. Sementara, untuk tembok catnya tidak termasuk bahan kimia, hanya soil-based.

Daurulang air
Salah satu fitur yang paling menarik adalah ruang terbuka bagian tengah (Brahmastan), yang memperbolehkan air hujan turun ke taman kecil di tengah rumah.

Selain memfasilitasi sirkulasi udara dalam rumah, sistem ini membantu menyimpan air hujan yang kemudian ditampung di bak penampung air di luar, bersama air bekas dari WC, dapur, kamar mandi dll. Dari situ, air bekas tersebut masuk ke pipa dengan lubang kecil (sepanjang sekitar 7 meter) dibawah tanaman (waste water garden - WWG), lalu air yang sudah jernih ditampung untuk digunakan menyiram tanaman. Uniknya air ini hampir tidak berbau dan tidak berwarna. Bonus: hemat air.

Dari sisa sayur ke pupuk... home-made
Sudah ada antara kita yang berpikir... masa sih rumah seperti ini tidak ada kompos? Tentu saja ada, hanya dibikin supaya tidak mencemarkan aspek visual kebunnya. Terdapat 3 kotak kecil tertanam di tanah untuk tempat sisa dapur dan kebun, yang dalam 1 bulan sudah menjadi pupuk yang siap dimanfaatkan Pak Deepak untuk kebunnya. Dengan tempat kompos tersebut, rumah ini tidak pernah membuang sampah organik. Hanya sampah plastik yang keluar dari rumah.

Yang bikin kita sangat heran adalah tanki dengan kapasitas 650 ml, yang digunakan untuk bikin... gas. Gas? Iya, Pak Deepak menjelaskan bahwa gas tersebut dapat diperoleh dengan cara mengisi kotoran sapi sebagai bio starter, lalu ditambah sisa sayur/buah setiap hari.

Dalam 4 hari, sistem ini bisa menghasilkan gas untuk menyalakan kompor selama 70 menit per hari, lumayan untuk sebuah eksperimen pertama...

Organik
Setelah 'tour', anggota GL ditawari untuk menikmati beberapa makanan buatan rumah, termasuk semacam salad campuran buah dengan yogurt, lalu lontong berisi sayur organik dengan saus kacang sebagai bumbu penyerta.

Selain pencinta arsitektur, Pak Deepak juga sudah berhasil membangun suatu jaringan distribusi makanan organik di Bali. Alhasil, saat anggota GL pulang semua bawa beras yang dipastikan tidak dicemari pestisida atau insectisida.

Pak Deepak dan Ibu Hira sudah menemukan gaya hidup yang memuaskan kebutuhan tubuh dan jiwa, tanpa membahayakan lingkungan. Memang tidak begitu banyak orang yang bisa dapat rumah di tengah sawah. Tapi, dari kompos sampai ke orientasi rumah, ada banyak yang kita di Greenlifestyle bisa pelajari dari rumah ini untuk mengikuti cara hidup yang ramah lingkungan dan yang tidak membebani alam kita.Sampai Greentrip berikutnya!


Viewed: 0

Tags: greenhome, rumah, energi, hemat, arsitektur


Panorama sawa dari rumah hijau di Batubulan Bali
2009-08-27 00:00:00
Sambil menikmati rumah hijau di desa Batubulan, Bali

Peserta Greentrip dari komunitas Greenlifestyle berkumpul di rumah Pak Deepak
2009-08-27 00:00:00

Pembukaan yang memperbolehkan air hujan turun ke taman kecil di tengah rumah hijau.
2009-08-27 00:00:00

Pak Deepak menjelaskan cara air bekas masuk ke pipa dengan lubang kecil dibawah tanaman
2009-08-27 00:00:00

Sambil menikmati makanan organik di rumah Hijau Pak Deepak di Batubulan, Bali
2009-08-27 00:00:00



Peserta greentrip Greenlifestyle sama tuan rumah hijau Pak Deepak dan Ibu Hira di Batubulan, Bali
2009-08-27 00:00:00