Green News
Mohamad Bijaksana, Gaya Hidup Hijau
Sampah, kotoran yang tidak berguna, lazimnya dibuang ke tong sampah. Tapi, tidak demikian bagi Mohamad Bijaksana Junerosano. Lulusan Teknik Lingkungan ITB ini memproklamirkan diri untuk 'bersahabat' dengan sampah.
"Sampah sering menjadi masalah. Tapi, di balik itu pasti ada peluang untuk menyelesaikannya. Karena itu, saya ingin mendalami sekaligus mencari solusi berkaitan dengan persoalan sampah," papar pria yang akrab disapa Sano ini kepada Republika.
Dengan bendera Greeneration Indonesia (GI) Sano suntuk bergelut dengan sampah. Lembaga yang didirikan pada 24 Juli 2005 ini dirintisnya setelah ia menyadari permasalahan lingkungan kini makin memprihatinkan. Karena itu, program yang ditawarkan GI adalah membuat produk dan memberikan jasa untuk menciptakan 'gaya hidup hijau'.
Tahun 2006, GI membuat program bertajuk KEBUNKU, yaitu KErtas Bekasku hijaUkan banduNgKu. Ide sederhana ini terinspirasi oleh begitu banyaknya orang yang mengonsumsi kertas, sejak di kantor-kantor, sekolah, kampus, hingga rumah. Padahal, bahan pembuat kertas adalah serat pohon. "Kini nyambung kan, semakin banyak orang menggunakan kertas, semakin banyak pula pohon yang ditebang," katanya.
Melalui KEBUNKU, tutur pria kelahiran 3 Juni 1981 ini, "Kami ingin mengembalikan siklus pohon yang seratnya banyak dimanfaatkan untuk pembuatan kertas. Yakni, bagaimana caranya agar dari kertas bisa menjadi pohon kembali."
Program tersebut dia kemas semenarik mungkin dengan sasaran para pelajar tingkat SD, dan SMP, di Bandung, Jawa Barat. GI melakukan roadshow dua mingguan ke sekolah-sekolah, memasyarakatkan program KEBUNKU, dengan menggandeng komunitas Ugreen dan Komunitas Sahabat Kota (KSK).
Edukasi
Program utama KEBUNKU, menurut Sano, memberi edukasi agar para pelajar bijaksana menggunakan kertas, yakni dengan menggunakan kertas seefektif mungkin. "Caranya, antara lain pemakaian kertas harus bolak-balik, jangan satu sisi saja. Kertas yang tak terpakai didaur ulang, agar bisa dimanfaatkan kembali," katanya.
Para pelajar pun diwajibkan mengumpulkan kertas sebanyak mungkin. Tumpukan kertas itu dikelola kembali, atau dibuat kertas daur ulang. Hasil olahan tersebut dijual, dananya untuk membeli bibit pohon. Karena itu, pada puncak acara KEBUNKU, para pelajar diajak menanam pohon bersama. Puncak acara ini digelar setiap bulan November.
Sano bersyukur, program itu mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan di Bandung. Karena itu, tahun depan program tersebut akan dikembangkan ke daerah-daerah lain. Rencananya, pada Januari 2010, KEBUNKU akan bergerak masuk ke sekolah-sekolah di Jakarta, lalu menyusul ke kota-kota lainnya hingga merata ke seluruh Indonesia.
Program-program Greeneration diharapkannya bisa menjadi 'virus' yang cepat menyebarkan luas. Organisasi, LSM, dan komunitas apapun dipersilakan 'mencaplok' program bersama itu. "Karena tujuan kita sama, ingin menjadikan Indonesia hijau kembali," katanya.
Alasan itu pula, menurutnya, yang menyebabkan kepanjangan KEBUNKU harus diperluas, tidak lagi untuk lokal Bandung, melainkan menjadi Kertas Bekasku Hijaukan Bangsaku.
Tas belanja
Program penanggulangan dan pemanfaatan sampah yang juga dikembangkan putra asal Banyuwanyi, Jawa Timur, ini adalah MASUK RT, yaitu MAnajemen Sampah Untuk Kawasan Rumah Tangga.
Produk yang ditawarkan untuk program ini berupa tas belanja ramah lingkungan sebagai pengganti tas kresek plastik yang mencemari lingkungan. Tas belanja ramah lingkungan ini diberi label Bagoes -- bisa diartikan sebagai bagus, bisa pula bag goes (tas yang bisa dibawa ke mana-mana).
Tas Bagoes mulai diproduksi tahun 2008, dengan bahan yang ramah lingkungan. Ada yang terbuat dari nilon, dan ada pula yang dari laken (mirip tissue). "Bahan-bahan tas ini kami ambil dari pabrik yang sudah memiliki sertifikasi ramah lingkungan dalam pengolahan limbah. Karena, kami ingin membuat sesuatu yang mulai dari hulu sampai ke hilir ramah lingkungan," papar Sano.
Tas belanja itu, tambahnya, tidak sekadar ramah lingkungan, melainkan juga kuat, bisa dipakai berulang-ulang, dan bentuknya simple -- dapat dilipat menjadi kecil mirip gantungan kunci. "Untuk yang berbahan nilon harganya lebih mahal, antara Rp 30 ribu hingga Rp 60 Ribu. Tersedia semua ukuran, mulai S, M, L hingga XL. Sedangkan tas dari bahan tissue harganya jauh lebih murah, dan ukurannya terbatas hanya M dan L," katanya.
Tas ramah lingkungan pengganti tas kresek itu, akunya, mendapat respon positif dari masyarakat. "Terus terang kami sampai kewalahan untuk memproduksinya, karena banyak sekali peminat tas ramah lingkungan ini," katanya.
Pada sisi lain, Sano menyambut gembira minat masyarakat itu. Sebab, hal itu berarti ada kesadaran dari masyarakat untuk memakai produk ramah lingkungan. "Minimal dari hal kecil, yaitu menolak ketika diberi plastik kresek saat berbelanja di pasar, atau supermarket, lalu menggantinya dengan tas Bagoes," harapnya.
Asal mula
Keakraban Sano dengan sampah tentu tidak terjadi tiba-tiba. "Ini berawal dari kebingungan saya saat menentukan pilihan jurusan kuliah. Saya harus kuliah di ITB, tapi jurusannya apa?" kenangnya.
Tidak mau salah pilih, pria yang berusia 29 tahun ini melakukan shalat Istikharah. Usai shalat dia melihat tayangan di televisi yang menggambarkan begitu parahnya sampah di Jakarta, dengan segala permasalahannya.
"Ini mungkin jawabannya. Karena setelah melihat tayangan itu, saya langsung tertarik ingin menyelami dunia sampah. Berarti saya harus mengambil jurusan Teknik Lingkungan," kenang Sano yang masuk kuliah tahun 2000.
Bekal dari bangku kuliah membuatnya makin serius menekuni permasalahan sampah, dan lingkungan. Kini, melalui Greeneration Indonesia, Sano tidak hanya membuat program-program lingkungan, melainkan juga melakukan wirausaha lingkungan.
Awal 2009 ini, sebagai langkah baru, GI menjadi perusahaan terdepan dan terbesar dalam menjual gaya hidup hijau. "Yang membedakan GI dengan LSM, atau organisasi lingkungan lainnya, adalah kami ini perusahaan. Kalau isu tetap sama berkaitan dengan lingkungan. Jadi, kami berwira usaha dengan sampah. Kami hidup berdikari, dan tidak berharap donasi, melainkan penanam modal yang siap bergabung," paparnya.
Kebutuhan
Ke depan, Sano optimis, permasalahan sampah dan lingkungan akan makin menjadi perhatian banyak pihak. Karena, pada akhirnya setiap orang akan mendambakan lingkungan yang bersih, hijau, dan sehat.
Gerakan Sano akan berhasil, selama masing-masing pihak tidak egosentris mengedepankan programnya sendiri. "Kita harus saling bersinergi, karena pada akhirnya isu lingkungan akan menjadi kebutuhan bersama," katanya.
Hal yang tidak kalah penting, tambah Sano, adalah adanya payung hukum yang kuat dari pemerintah. "Lihat saja di Singapura, begitu ketatnya peraturan tentang lingkungan. Membuang sampah atau puntung rokok sembarangan akan kena denda besar. Mengapa hal ini tidak diberlakukan di Indonesia?" katanya. (susie evidia)
sumber: Republika
Viewed: 0 | Beri peringkat berita ini:
(0)|
(0)
Tulis komentar »
Komentar
... belum ada komentar
Tulis Komentar