Green News
Enrique Penalosa: Trotoar Yang Manusiawi Hingga Masa Depan Busway
Bekas Walikota Bogota Enrique Penalosa mampir ke Jakarta dalam rangka konferensi internasional bertajuk Jakarta Sustainable Convention. Event ini ditujukan untuk menciptakan pembangunan Jakarta yang lebih berkelanjutan.
Bicara soal pembangunan berkelanjutan, Penalosa sudah lebih dulu merintis perubahan di kotanya. Dia mengubah wajah kotanya yang muram dengan transportasi yang lebih baik, membatasi penggunaan kendaraan, mempromosikan kegiatan berjalan di trotoar, bersepeda, dan bertemu serta bergembira di ruang-ruang terbuka yang lebih banyak dan mudah diakses publik.
Di Jakarta Penalosa sempat menjajal busway, sebuah sistem transportasi massal yang mencontoh sistem transportasi Bogota TransMillenio. Reporter Green Radio, Hilman Handoni menemani Penalosa, berbincang-bincang soal mal, sepeda motor, busway, trotoar yang berkualitas.
Green Radio (GR): Apa komentar Anda soal trotoar di Jakarta?
Enrique Penalosa (EP): Inilah perbedaan antara kota maju dan kota yang mundur. Trotoar. Yang sebenarnya menjadikan perbedaan antara kota maju dan kota yang mundur bukanlah kereta bawah tanah atau subway atau jalan layang (highway). Karena kadang-kadang Anda bisa menemukan jalanan raksasa di sebuah kota miskin di Afrika.
Yang menjadikan perbedaan antara kota yang maju dan kota yang mundur adalah trotoar yang berkualitas. Mereka mempertunjukkan penghormatan pada harkat kemanusiaan. Di mana orang miskin dan orang kaya adalah sama, bertemu dan berjalan di trotoar yang sama.
GR: Seperti yang Anda lihat, ada banyak sekali sepeda motor di Jakarta. Apakah ini akan menjadi masalah?
EP: Mobil lebih bermasalah ketimbang motor. Sebuah mobil mengambil ruangan enam kali lebih banyak daripada motor bahkan lebih. Kalau kita melihat motor menjadi masalah maka kita harus melihat mobil sebagai masalah yang lebih besar. Kita melihat motor menjadi masalah karena motor dimiliki orang miskin. Sementara itu mobil dimiliki oleh orang yang punya kedudukan (politik dan ekonomi) tinggi, karena itulah mobil tidak jadi masalah.
GR: Apakah harus ada juga pembatasan jumlah mobil yang ada di jalan untuk mengatasi kemacetan?
EP: Apa yang kita lakukan bukanlah membatasi kepemilikan mobil. Tapi yang kita lakukan adalah membatasi penggunaan mobil. Adalah baik kalau orang punya keinginan dan pada akhirnya punya mobil. Tapi mereka seharusnya menggunakan mobil untuk pergi ke pantai atau ke luar kota. Bukan untuk pergi ke kantor setiap hari memakai mobil.
GR: Anda melihat banyak mal di Jakarta?
EP: Pusat perbelanjaan bukan akar masalah. Tapi mereka adalah konsekuensi dari problem ketika sebuah kota tidak bekerja dengan baik. Kenapa tidak ada pusat perbelanjaan di Paris? Karena tidak ada orang yang kepingin ke pusat perbelanjaan. Karena itu terlalu membosankan. Lebih baik ada di jalan. Kanapa tidak ada pusat perbelanjaan di New York? Karena tidak ada yang mau ke sana. Jadi pusat perbelanjaan bukan akar dari masalah. Tapi mereka adalah konsekuensi dari problem sebuah kota yang tidak bekerja dengan baik. Jika Anda punya trotoar yang baik. Dan bisa berbelanja di jalanan, maka orang tidak perlu ke pusat perbelanjaan.
GR: Sudah lima tahun ini Jakarta menerapkan sistem transportasi massal berbasis bus yang mereplika Trans-Millenio yang ada di Bogota. Tapi sepertinya di sini berjalan dengan lamban.
EP: Saya yakin ada banyak teknis detail yang bisa dijelaskan para ahli. Tapi hal yang terpenting bagi Trans-Jakarta adalah untuk memastikan jalur khusus ini benar-benar steril dari mobil-mobil yang menyerebot jalur khusus.
Anda membutuhkan orang-orang ini bisa bepergian lebih cepat dengan bus ketimbang mobil pribadi. Di Bogota, 20 persen pengguna Trans-Millenio punya mobil pribadi. Tapi mereka menggunakan bus karena Transmillenio lebih cepat untuk mencapai tempat tujuan. Anda perlu bus lebih banyak lagi dan perlu bus yang lebih besar lagi.
Tapi kabar baiknya adalah prinsip-prinsip dasar seperti jalur khusus, stasiun pra-bayar, kontrak dengan operator bus yang berbasis kilometer sudah diterapkan. Hal-hal penting sudah ada dan tinggal dilakukan beberapa penyesuaian. Dan menurut saya masa depan adalah Trans-Jakarta.
GR: Pemerintah Jakarta sepertinya berpaling dari sistem bus ke sistem kereta bawah tanah alias Mass Rapid Transit (MRT). Anda punya komentar soal ini?
EP: Anda bisa saja mempunyai MRT. Tapi Anda bisa mendapatkan lebih banyak lagi dengan ongkos yang lebih murah dengan cara meningkatkan kualitas Trans-Jakarta daripada membangun MRT. Bahkan jika Anda membangun 50 kilometer jalur MRT, saya bisa jamin bahwa 50 kilometer MRT itu tidak mampu memindahkan lebih dari 5 persen dari populasi. Anda masih tetap memerlukan sistem bus yang bagus.
Tahap pertama MRT di Jakarta yang cuma 14 kilometer memerlukan investasi sebesar 900 juta dollar. Padahal jika Anda berinvestasi 10 juta dollar per kilometer atau katakanlah lima juta dollar kilometer, maka dengan jumlah investasi yang sama Anda mendapatkan 90 atau 180 kilometer jalur khusus (busway).
Tapi saya akan mengajukan ini: Investasi saja lima juta dollar untuk konsultan manajemen terbaik di dunia untuk menentukan skema dan organisasi terbaik seperti apa yang bisa digunakan Transjakarta. Lantas sewalah pengacara terbaik di Indonesia untuk menyelesaikan masalah legal yang membelit Trans-Jakarta. Lantas satu juta dollar lainnya untuk membenahi masalah-masalah teknis dan operasional. Itu cuma lima juta dollar. Tidak ada apa-apanya dibanding investasi 900 juta dollar untuk MRT. Kurang dari satu persennya saja.
sumber: Green Radio 89,2 FM
Viewed: 0 | Beri peringkat berita ini:
(3)|
(0)
Tulis komentar »
Komentar
Tulis Komentar
2010-02-01 15:05:53
bravo penalosa. sayang, jakarta yang mencontoh anda, tidak bisa mencontoh disiplin masyarakat bogota sekalian...